Saturday, May 28, 2011

Yanti Ibu Kos Yang Hot

Ibu Kost Yanti

Sudah hampir setahun Andi tinggal di tempat kost bu Yanti. Bisa tinggal di tempat kost ini awalnya secara tidak sengaja ketemu bu Yanti di pasar. Waktu itu bu Yanti kecopetan, trus teriak dan kebetulan Andi yang ikut menolong menangkap copet dan mengembalikan dompet bu Yanti. Trus ngobrol sebentar, kebetulan Andi lagi cari tempat kost yang baru dan bu Yanti mengatakan dia punya tempat kost atau bisa di bilang rumah bedengan yang dikontrakkan, yah jadi deh tinggal di kost-an bu Yanti.

Bu Yanti lumayan baik terhadap Andi, kelewat baik malah, karena sampai saat ini Andi sudah telat bayar kontrak rumah 3 bulan, dan bu Yanti masih adem-adem aja. Mungkin masih teringat pertolongan waktu itu. Tapi justru Andi yang gak enak, tapi mau gimana, lha emang duit lagi seret. akhirnya Andi lebih banyak menghindar untuk ketemu langsung dengan bu Yanti.

Sampai satu hari…… waktu itu masih sore jam 4. Andi masih tidur-tiduran dengan malasnya di kamarnya. Tempat kost itu berupa kamar tidur dan kamar mandi di dalam. Terdengar pintu kamarnya di ketok… tok..tok..tok.. lalu suara bu Yanti yang manggil,”Ndi…Andi… ada di dalem gak?” Sontak Andi bangun, wah bisa berabe kalo nanyain duit sewa kamar nie, pikir Andi. Dengan cepat meraih handuk, pura-pura lagi mandi aja ah, ntar juga bu Yanti pergi sendiri. Setelah masuk kamar mandi kembali terdengar suara bu Yanti,” Andi lagi tidur ya..?” dan dari kamar mandi Andi menyahut sedikit teriak,” lagi mandi bu….”

Sesaat tidak ada sahutan, tapi kemudian suara bu Yanti jadi dekat,”ya udah mandi aja dulu Ndi, ibu tunggu di sini ya…” eh ternyata masuk ke kamar, Andi tadi gak mengunci pintu. “busyet dah, terpaksa bener-bener harus mandi nie,”pikir Andi.

Sekitar lima belas menit Andi di kamar mandi, sengaja mandinya agak dilamain dengan maksud siapa tau bu Yanti bosan trus gak jadi nunggu. Tapi rasanya percuma lama-lama toh bu Yanti sepertinya masih menunggu. Akhirnya keluar juga Andi dari kamar mandi, dengan hanya handuk yang melilit di pinggang, tidak pakai celana dalem lagi, maklum tadi gak sempet ambil karena terburu-buru.

Bu Yanti tersenyum manis melihat Andi yang salah tingkah,”lama juga kamu mandi ya Ndi…” bu Yanti membuka pembicaraan. “pasti bersih banget mandinya ya…” gurau bu Yanti sambil sejenak melirik dada bidang Andi. “ah ibu bisa aja… biasa aja kok bu.., oia ada apa ya bu..?” jawab Andi sekenanya saja sambil mengambil duduk di pinggiran tempat tidur. Bu Yanti mendekat dan duduk di samping Andi, “Cuma mau ngingetin aja, uang sewa kamarmu dah telat 3 bulan lho… trus mau ngobrol-ngobrol aja sama kamu, kan dah lama gak ngobrol, kamu sie pergi mlulu…”ucap bu Yanti. Andi jadi kikuk,”wahduh… kalo uang sewanya ntar aku bayar cicil boleh gak bu? Soalnya lagi seret nie…” jawab Andi dengan sedikit memohon.

Bu Yanti terlihat sedikit berpikir…”mmmm… boleh deh, tapi jangan lama-lama ya… emang uangmu di pakai untuk apa sie?” terlihat bu Yanti sedikit menyelidik. “hmmm… pasti buat cewe mu ya…”dia terlihat kurang senang.

“ah nggak juga kok bu….. saya emang lagi ada keperluan,” jawab Andi hati-hati melihat raut wajah bu Yanti yang kurang senang.

“huh…laki-laki sama aja, kalo lagi ada maunya, apa aja pasti di kasih pada perempuan yang lagi di dekatinya, hhhh… sama aja dengan suamiku….”keluh bu Yanti dengan nada kesal.

Waduh nampaknya bu Yanti lagi marahan nie sama suaminya, jangan-jangan amarahnya ditumpahkan pula sama Andi. Dengan cepat Andi menjawab,”tapi saya janji kok bu, akan saya lunasi kok…”

“hhhhh….”bu Yanti menghela nafas,”udahlah Ndi, gak apa-apa kok, gak di bayar juga kalo buat kamu ga masalah… ibu Cuma lagi kesel aja sama suamiku, dia cuma perhatiannya sama Marni terus… aku seperti gak dianggap lagi, mentang-mentang Marni jauh lebih muda ya.”

sedikit penjelasan bahwa bu Yanti ini istri pertama dari pak Kardi, sedangkan istri keduanya bu Marni. Dan sekarang sepertinya pak Kardi lebih sering tinggal di rumahnya yang satu lagi bersama bu Marni dan bu Yanti tampaknya udah mulai kesepian nie

“wah kalo masalah keluarga sie aku kurang paham bu…. “jawab Andi kikuk

“gak apa-apa Ndi, ibu hanya mau curhat aja sama kamu… boleh kan Ndi?” suara bu Yanti sendu. Agak lama terdiam, terdengar tarikan nafas bu Yanti terasa berat, dan sedikit sesunggukan, waduh lama-lama bisa nangis nie, gawat dong pikir Andi.

“udah bu jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pak Kardi kembali lagi kok, kan ibu juga gak kalah cantiknya sama bu Marni,”Andi bermaksud menghibur.

“ah kamu Ndi… emang ibu masih cantik menurutmu?” bu Yanti menatap sendu ke arah Andi, terlihat dua butir air mata mengalir di pipinya. Uhh…. ingin rasanya Andi menghapus air mata itu, pak Kardi emang keterlaluan masa wanita cantik nan elok seperti ini dianggurin sie, coba Andi bisa berbuat sesuatu… busyet… Andi memaki dalam hati… “kenapa otak gwa jadi kotor gini.”

Dengan sedikit gugup Andi menjawab,”mmm…eee…iya kok bu, ibu masih cantik, kalo masih gadis mungkin aku yang duluan tergoda.” Uupsss …. Maksud hati ingin menghibur, tapi kenapa kata-kata yang menggoda yang keluar dari mulut… gerutu Andi dalam hati. Andi jadi panik, jangan-jangan bu Yanti marah dengan ucapan Andi. Tapi ternyata Andi salah, karena bu Yanti tersenyum, manis sekali dengan deretan gigi yang putih dan rapi,”ih Andi bisa aja menghibur…. Iya juga sie, kalo masih gadis bisa aja tergoda, pantes aja suamiku gak ngelirik aku lagi, bis nya dah tua sie…” rona wajah bu Yanti berubah sedih lagi,”kalo menurutmu Ndi, apa ibu emang gak menarik lagi…?” sambil berdiri dan memperhatikan tubuhnya kemudian menatap Andi minta penilaian. Terang aja Andi makin kikuk,”wah aku mau ngomong apa ya bu…? Takutnya nanti di bilang lancang lho… tapi kalo mau jujur…. Ibu cantik banget, seperti masih 30an deh.”

Bu Yanti tampaknya senang dengan pujian itu,”hmmm.. kamu ada-ada aja saja… ibu udah 43 lho.. emang Andi liat dari mananya bisa bilang begitu?”

Andi jadi cengar cengir,” ….itu penilaian laki-laki lho bu, saya malu bilangin nya.”

Bu Yanti kembali duduk mendekat, sekarang malah sangat dekat hampir merapat ke Andi sambil berkata,” ah.. gak perlu malu…. Bilang aja…”

Nafas Andi terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan bu Yanti, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Andi mengalihkan pandangan ke arah tubuh bu Yanti mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Andi memperhatikan bahwa bu Yanti memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya. Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Andi beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan dada yang hmmm… sepertinya buah dada itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan bu Yanti di paha Andi yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Andi. Dengan penuh selidik bu Yanti bertanya,”lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…”

Andi sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh bu Yanti,”mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…”

Tidak ada jawaban dari mulut bu Yanti, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah bu Yanti makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Andi pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Andi menyambut bibir merah bu Yanti, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, bu Yanti menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Andi, dan dibalas dengan lilitan lidah Andi sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.

Dengan naluri yang alami, tangan Andi merambat naik ke bahu bu Yanti, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Andi meraba bahu bu Yanti sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah dada, dengan remasan lembut Andi meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. “hhhhh…hhhh” nafas bu Yanti mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik bu Yanti tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut dada Andi… melingkari pinggang Andi, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…

Uupps…. Andi tersentak dan sadar….,”ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana….” Andi tertunduk tak berani menatap bu Yanti sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah bu Yanti.

Terlihat bu Yanti pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. “napa Ndi… kita sudah memulainya… dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam… kamu harus menyelesaikannya Ndi…” tatapan bu Yanti terlihat semakin sendu…
“mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…” jawab Andi.

Tanpa menjawab bu Yanti bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Andi terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh bu Yanti. Kemudian dengan tenang bu Yanti melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Andi itu nampak gerakan bokong bu Yanti naik turun, dan perasaan Andi semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat bu Yanti berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Andi tidak melepaskan sedikit pun gerakan bu Yanti. Sampai bu Yanti berdiri dekat di depan Andi dan berkata,”kamarnya udah di kunci Ndi, dan gak ada yang akan mengganggu….”

Andi tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Bu Yanti kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Andi mendekat dan duduk di samping bu Yanti… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Andi langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.

Bu Yanti yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Andi, menarik wajah dan langsung melumat bibir Andi dengan nafsu yang membara. Andi membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah bu Yanti, tangan Andi meremas payudara montok milik bu Yanti. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, bu Yanti mendorong lembut badan Andi, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Andi mendorong lembut tubuh bu Yanti, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Dada yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Andi melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Andi menyedot dan memainkan puting susu itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… “HHHH…. AHHH….MMMH….”suara bu Yanti mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Andi melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel bu Yanti yang menggelinjang kegelian.

Andi menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam bu Yanti, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan bu Yanti mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan vagina dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Andi mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha bu Yanti yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir vagina yang mulai mengeluarkan cairan senggama. Tanpa menunggu lama, Andi menyapu cairan senggama itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir vagina bu Yanti dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat bu Yanti mengerang kenikmatan,”AHHHH…. MMMMH… HHH… Ndi….UHH…”desahan birahi yang memuncak dari bu Yanti membuat Andi semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke liang senggama yang menanti pemenuhan itu.

Setelah beberapa menit Andi mengeksplorasi liang kewanitaan itu, nampaknya bu Yanti tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahinya,”Ndi…. Ayo sayang… masukkin Ndi… hhhh…mmmmh.” Suara bu Yanti ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.

Dengan tenang Andi menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap bertempur yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Bu Yanti semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap liang wanitanya. Andi naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan batang penis ke arah vagina bu Yanti yang dengan sigap lansung meraih dan meremas batang kemaluan Andi dan membantu mengarahkannya tepat ke liang vaginanya.

Dengan sekali dorongan penis Andi amblas sampai setengahnya. Andi menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan bu Yanti,” AHHH….TERUSKAN NDI….AHHH.” kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan batang zakar yang masuk seluruhnya barulah Andi memompa menaik turunkan pantat dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.

Andi bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan bu Yanti mencengkam punggung Andi, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di liang senggamanya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,”AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH.” tak hentinya desahan meluncur dari bibir Andi dan bu Yanti. Sesaat Andi menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, bu Yanti memeluk Andi dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di liang vaginanya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, bu Yanti memompa dan menaikturunkan pantatnya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali bu Yanti memutar pantatnya dan kemudian memasukkan batang zakar Andi lebih dalam. Andi tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting susu bu Yanti. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat bu Yanti seperti tak sanggup melanjutkan pompaan karena birahi yang hendak mencapai puncak pemenuhan. Dengan sigap Andi membalikkan posisi, bu Yanti kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Andi meneruskan pertempuran. “Ndi…AHH..AH..AH..UH… TERUS NDI…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…NDI….AHHHHHHHH… MMMMMHHH.” Setelah teriakan tertahan bu Yanti mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Andi merasa vagina yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot zakarnya.Andi menikmatinya dengan memutar –mutar pantatnya dan memasukkan lebih dalam lagi batang zakarnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti batang zakarnya, semakin besar dan sesaat Andi kembali mendorong batangnya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar batanga zakarnya dan melepaskan air maninya di atas perut bu Yanti…. Yang dengan cepat meraih penis Andi dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut bu Yanti mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Andi membaringkan tubuhnya disamping bu Yanti. Terdiam untuk beberapa saat.

Bu Yanti bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Andi. “makasih ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Ndi,” bisik mesra bu Yanti di telinga Andi.

“mmm…baik bu…”belum sempat Andi menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk bu Yanti menempel di bibirnya, “kalo lagi berdua gini jangan pangil ibu dong…”ucap bu Yanti manja.

“iya sayang….” Balas Andi, senyum manis merekah di bibir seksi bu Yanti.

Setelah itu dengan cepat Andi dan bu Yanti merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Andi, bu Yanti berbisik mesra,”sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… berapa ronde pun dilakoni buat Andi sayang.” Sambil berpelukan mesra, Andi menyanggupi ajakan bu Yanti.

0 comments:

Post a Comment